Menulusuri air di telusur air curug seeng.

Wah, seharusnya ini ditulis dari 2 bulan yang lalu, seharusnya. Lama banget ya. Tapi, gapapa deh ya ditulis sekarang juga, baru ada niatnya soalnya. Iya jadi pada bulan juli tepatnya tanggal 26 Juli, saya bersama teman rumah saya (baca; teman kampungan) berangkat menuju desa gunung malang, di kaki gunung salak. Awalnya kita tidak niat untuk dateng ke curug seeng, kita punya opsi curug lain, aduh saya lupa, daerahnya di daerah gunung salak juga, curug yang kita kenali sebelumnya dari sosial media. Bentar, sepertinya saya ingat, kalo tidak salah kita meniatkan untuk mengunjungi curug ngumpet, yang tempatnya di daerah gunung salak juga. Semuanya berubah saat di hari H.

Dari perjalanan 1 jam kurang lebih dari depok menuju curug seeng, kita hanya mengandalkan GPS. Kenapa? Karena dari kita semua belum pernah yang ke tempat yang dituju. Setelah nyasar, muter, nanya orang sana sini, akhirnya sampai. Jadi saat kita sampai, awalnya kami menanyakan kepada anak kecil yang ada di gubuk yang berada di parkiran lapang yang luas, di dekat gubuknya ada banner yang isinya foto-foto curug dan wisata lainnya. Kita menanyakan letak curug tersebut kepada anak yang di gubuk itu, saya masih ingat namanya Ian. Dia menyarankan untuk bertemu pengelola curug tersebut, di sini kami masih mengira itu curug ngumpet. Kami memakirkan kendaraan kami masing-masing, kami membawa kendaraan roda 4 saat itu, tapi tidak usah khawatir, akses untuk roda 4 bisa masuk juga kok. Setelah memarkirkan kendaaraan, kami dianter si Ian menuju curug tersebut dengan jalan kaki kira-kira 30 menit kurang lebih ditemani pemandangan yang indah, sawah dan air sungai kecil yang mengalir. Sampai di curug, kami diperkenalkan oleh ian kepada pengelola curug di situ, kang asep. Dia menjelaskan tentang curug tersebut; curug ini baru beroperasi setahun, belum banyak yang tau tempat ini. Pembayaran dan pendataan langsung di sini juga dengan kang asep, waktu itu perorangan dikenakan biaya 35 ribu, dan di sini juga bisa menyewakan hammock seharga 20 ribu persatu hammock.

Setelah perpincangan dan himbauan dari pengelola, kita diantar sampai di tempat perkemahan untuk mendirikan tenda dan hammock, kita memasangnya dengan semangat, kita bersantai ria di atas hammock yang dikaitkan kepada 2 pohon.  Setelah itu kita makan sore dengan lauk ikan teri, sambal dan tempe orek, bersama si Ian dan temannya ian. Ian datang bersama temannya sambil membawa hammock yang kita sewa, kita pun mengajak mereka berdua untuk makan bersama. Tempat untuk mendirikan tenda ini asik, diselimuti pohon pinus, dataran yang mendatar, tidak jauh ada danau kecil buatan, ada beberapa tempat duduk buatan dari kayu, ada saung yang lumayan besar bisa menampung beberapa banyak orang (bayar sekitar 5 ribu perorang jika ingin menggunakannya untuk tidur), 2 kamar mandi yang tidak terlalu jauh, dan kalo berjalan sedikit ke atas ada tempat spot foto yang bagus (dikenakan biaya 5 ribu) yang di belakangnya pemandangan bukit. Pokoknya tempatnya asri dan nyaman. Di sini aman, tak ada hewan liar, hanya ada monyet yang suka lewat dari perkemahan, dan itu juga agak jauh, tapi tetap saja pengelola menghimbau untuk tidak memberi makanan kepada kerumunan monyet jika bertemu. Dan ketika malam tiba, pengelola datang untuk mengecek dan menjaga yang berkemah sekitar 1/2 jam lebih, sehabis itu mereka pulang kembali ke tempat gubuk yang ada di parkiran untuk menjaga kendaraan di sana.

Petaka datang, di luar dugaan kami, hujan turun selama 4 jam lamanya, hujannya sangat deras, kita hanya bisa berlindung di dalam tenda selama 4 jam itu menunggu hujan reda. Kita memakani makanan yang kita bawa, dari cemilan, masak kopi di dalam tenda, dan mengunyah bekel yang kita bawa dari rumah. Persediaan makan juga menipis, ini di luar dugaan kami, kami harus irit juga karena masih ada hari esok. Sekitar jam 8-an malam, kita akhirnya memaksakan menerobos hujan menuju saung yang ada dekat tenda kami. Kita memaksakan hal ini karena tanah yang kita tempati di bawah tenda sudah tergenang air. Oiya, kami memasang 2 tenda, 1 tenda sudah basah, walau keduanya basah juga, tapi salah satu tenda masih ditempati, 1 tenda untuk enam orang, kedinginan!

Di saung kami langsung mengganti baju dan menyelimuti diri dengan jaket, sebenarnya kalau disuruh memilih untuk tidur di tenda atau di saung, kita lebih memilih di tenda. Tapi kondisi tenda tidak memungkinan untuk dijadikan beristirahat sampai besok pagi. Kenapa kita lebih tertarik tidur di tenda? Di saung kita lebih disiksa oleh dinginnya kaki gunung, tempatnya yang terlalu terbuka membuat aingin malam mudah menyerang kita semua. Tapi setidaknya badan-badan kami bisa lebih nyaman untuk tidur jika di saung. Oiya, kondisi di saat itu hanya kami yang sedang berkemah, karena kami berkemah saat weekday, sepi akan pengunjung. Lanjut cerita, setalah menyelimuti diri dengan jaket, kita memasak mie untuk di makan malam itu. Dengan stok air yang sudah abis, 2 orang dari kami turun 2x ke toilet untuk mengambil air, pertama untuk memasak mie, kedua untuk minum dan mengopi. Sambil memasak, beberapa dari kami menyalakan api unggun untuk mengahatkan badan. Bersyukur, setidaknya suhu badan bisa stabil. Jam 12an malam, di gelapnya kaki gunung salak, terlihat dari kejauhan ada cahaya berjalan menuju saung kita, setelah mendekat ternyata itu pengelola curug seeng ini, kang asep dan ditemani temannya. Kita mengobrol tentang warga desa gunung malang, cerita tentang curug dan perkemahan ini, dan banyak lagi di depan api unggun yang telah kami nyalakan. Mereka juga tak menyangkan hujan menguyur saat itu, karena sudah beberapa bulan hujan tak datang ke tempat itu, kami juga sekalian meminta izin untuk tinggal di saung tersebut, dan kami diizinkan, malah awalnya kang asep sangat khawatir dengan keadaan kami, dan niatnya jika kita tetap berlindung di tenda dia akan menyuruh kita untuk pindah ke saung dan memasang tenda di saung. Tapi saat itu kita tidak memasang tenda di saung, karena tidak memungkinkan juga dan ribet juga sudah gelap harus membongkar kembali tenda. Kang asep juga tak menagih uang untuk sewa saung, karena kondisi hujan juga di luar dugaan kang asep juga. Kang asep juga awalnya ingin datang sekitar jam 8-9an malam, tapi saat itu kondisi masih hujan gerimis.

Pagi tiba, kita semua langsung menikmati  dinginnya curug seeng. Perjuangan semalam terbayarkan, kita merasa kalau ini curug pribadi, hanya ada kami saat itu. Kita memasang hammock 2 tingkat di curug seeng tersebut, bersantai, dan berfoto. Oiya, sebelumnya kang asep janji mengajak kami untuk merasakan telusur air. Setelah kita menikmati curug seeng, tidak beberapa lama kang asep datang, dan mengajak kami untuk telusur air. Untuk telusur air ini kita dikenakan biaya 10 ribu perorangan, telusur air ini wajib dituntun oleh pengelola, wajib, karena sangat berbahaya juga. Kita harus turun dulu ke bawah selama 10 menitan perjalanan. Dan telusur air pun dimulai! Kita melawan arus air, berenang untuk melewati beberapa genangan air yang agak dalam atau untuk yang tidak bisa berenang bisa untuk berpegangan dengan tali. Di tengah perjalanan, kita harus menaiki curug kecil, kecil sekitar 2/3 meter tingginya dengan berpegangan tali besar, dan dibantu kang asep yang sudah naik duluan. Di sini kita tidak diperobolehkan membawa kamera atau gadget lainnya, kecuali gadget tersebut tahan air. Maka dari itu saya tak bisa mengambil gambar keseruan telusur air pada saat itu. Setelah melewati beberapa genangan, bebatuan, dan salah satu curug kecil, kita sampai di curug seeng. Sebenarnya akses menuju curug seeng mudah, sudah ada tangga menuju curug seeng, dan lebih dekat dari tempat kita berkemah. Telusur air ini dimanfaatkan pengelola untuk pengunjung yang ingin merasakan adrenalin menulusuri air dengan penuh tantangan. Selesai dari telusur air, kita tidak mandi di curug seeng lagi, karena tadi pagi kita sudah puas menikmati curug seeng, lagipula saat itu sudah hampi terlalu sore, kita semua bergegas pulang dan pamitan dengan kang asep, dan ian yang waktu itu datang kembali ke tempat kami berkemah.

Berkesan!

SHARE ON:

Terima kasih telah melihat dan membaca.

    Blogger Comment

0 komentar:

Posting Komentar