KETIKA RIVALITAS MELEBIHI BATAS, MAKA RASA KEMANUSIAAN AKAN HILANG BEGITU SAJA.
Sabtu (22/17) kemarin terjadi pertandingan syarat gengsi
antar dua tim yang mempunyai rivalitas baik di lapangan maupun luar lapangan,
pertandingan yang mempertemukan klub asal Jakarta (Persija Jakarta) melawan
klub bandung yang disegani di provinisi jawa barat (Persib Bandung).
Sebelumnnya kedua tim selalu memberikan pertandingan yang menarik dan penuh drama
di pertemuan sebelum ini. Tapi rivalitas di luar lapangan (baca: antar
supporter) yang lebih menyorot media. Bagaimana bisa nyawa begitu dengan mudah
hilang ketika 2 supporter ini bertemu.
Ricko Andrean, yang baru saja harus merelakan nyawa dirinya karena
rivalitas antar kedua supporter Jakarta dan Bandung. Sebelum kejadian ini, Agen Stava (20) Asal Jak Cikarang
harus kehilangannya nyawanya di cibitung pada bulan mei (23/17) selepas menonton
pertandingan antar Persija melawab Bali United, terjadi pecah bentrok di lampu
merah cibitung, untuk kronologisnya saya tidak terlalu tau. Kembali kepada
korban yang baru ini, Ricko Andrean anak yatim piatu yang harus mengikuti kedua
orang tuanya yang sudah menunggu di surga.
Kronologis:
Sungguh mulia apa yang dilakukan Ricko. dari kronologis yang saya baca di media, korban melindungi ‘orang’ yang diduga jakmania yang sebagai musuh viking/bobotoh, korban niat melerai, tapi apa daya dikarenakan korban saat itu tidak memakai atribut Persib Bandung ikut menjadi bulan-bulanan bobotoh/viking. Sempat kritis dan tak sadarkan diri di rumah sakit Santo Yusuf, Bandung. Ricko akhirnya meninggal dunia.
Sungguh mulia apa yang dilakukan Ricko. dari kronologis yang saya baca di media, korban melindungi ‘orang’ yang diduga jakmania yang sebagai musuh viking/bobotoh, korban niat melerai, tapi apa daya dikarenakan korban saat itu tidak memakai atribut Persib Bandung ikut menjadi bulan-bulanan bobotoh/viking. Sempat kritis dan tak sadarkan diri di rumah sakit Santo Yusuf, Bandung. Ricko akhirnya meninggal dunia.
Jadi ingat saat itu pertandingan Persija vs Persib di
Stadion Manahan Solo, saat itu saya menonton pertandingan itu, saya sendiri
adalah pendukung Klub asal Jakarta, Persija Jakarta. Sama halnya dengan
kejadian di atas, ada beberapa korban pengeroyokan di tribun. Tapi yang saya
sangat ingat 2 orang yang berada di depan saya saat di tribun. Mereka berdua
tak memakai atribut, dan sama sekali tak hafal chants persija, dan sesekali
melirik ke kanan ke kiri, tapi ketika seluruh tribun teriak “Persija…. Persija….
Persija…” Dia berdua mengikuti tapi tidak dengan ciri khas jakmania yang
melakukan jempol telunjuk, Mereka berdua seperti adik-kakak, wajahnya agak ke
sunda-an. Dan ketika ada beberapa jakmania yang berteriak “Woy cari viking,
mobil gua hancur dibikin sama dia..” dia seperti panik. Dan terkadang mereka
berdua mengobrol dengan pelan-pelan. Mungkin jika saat itu saya pernah jadi
korban viking sebelumnya dan mempunyai kenangan buruk dengan viking, saya akan
memberitahu jakmania yang lain untuk mengecek dia datang darimana, dan melihat handphone-nya. Tapi saat itu saya tak
melakukan itu, saya paham betul kejadian apa yang mereka timpa ketika jika saya
beri tau jakmania di sekitar saya, saya sama saja dicap pembunuh. Selepas
pertandingan mereka berdua langsung keluar tribun dengan selamat tanpa ada yang
mencurigai. Sebelumnya ini hanya dugaan saya, saya tak tau apakah dia viking
atau bukan. Saya memang sering teriak ‘viking anjing’ dan kata kotor lainnya,
saya juga benci viking, entah mungkin karena saya jakmania, tapi saya masih
punya rasa kemanusiaan. Alhamdulillahnya, saya dididik kedua orang tua saya dari
kecil.
Hentikan! Kejadian ini jangan sampai terjadi lagi, korban
Ricko yag terakhir. Kejadian ini terjadi karena dosa pendahulu kita dulu.
Sejatinya tidak ada orangpun yang menginginkan permusuhan, seandainya pendahulu
tidak memanam permusuhan, mungkin generasi sekarang tidak akan terkena
imbasnya. Sebenarnya sebelum kejadian Ricko, Kedua pemimpin supporter
Jakarta-Bandung, Bung Ferry dan Heru Joko sudah mempunyai itikat baik untuk
berdamai, tapi mungkin ada beberapa oknum yang belum tersadarkan, selepas
kejadian ini, semoga terbuka pikirannya yang masih menginginkan; permusuhan dan
bunuh-bunuh-an. Damai itu dimulai dari diri sendiri, demi sebuah janji, jangan
ada korban lagi.