Media sosial: munculnya penyakit hati.
Benar atau tidak, media sosial bisa menjadi salah satu permasalahan penyakit hati yang dirasakan hampir setiap manusia yang menggunakannya. Apapun platform-nya, apapun medianya, selalu ada celah untuk merusak hati dan pikiran. Media sosial mempunyai dua sisi yang bisa diambil; positif dan negatif. Positifnya sangat banyak, terlebih di era yang serba digital, mencari uang bisa di media sosial dan mencari sumber pengetahuan juga dari media sosial. Negatifnya? Bukan main banyaknya, mari kita bedah beberapa.
Sebelumnya, taukah kalian jika media sosial menjadi sarapan pertama hampir seluruh manusia di muka bumi. Di Indonesia sendiri 175,4 juta pengguna internet di tahun 2020, naik setiap tahunnya. Data tersebut dilansir oleh We Are Social dari halaman detik. Jika ditanya kepada mereka semua (pengguna internet di Indonesia) apa yang mereka lakukan ketika bangun tidur, makan nasi uduk atau membuka handphone terlebih dulu? Jelas makan ketupat sayur jawabannya, bisa-bisanya orang nggak sarapan pake ketupat sayur. Kuahnya beh, tolong ini ngetik sambil ngiler.
Tapi serius, pengguna internet jika ditanya ketika bangun tidur pasti yang dicari handphone, entah melihat grup WA kerjaan, atau mengecek chat gebetan semalam “lho kok nggak dibalas-balas?” dahlah mundur aja. Yakan. Menjadi suatu hal yang wajar, mengkonsumi media sosial dulu ketimbang sarapan roti dan susu. Dan apakah itu termasuk salah satu hal negatif? Kembali ke persepektif masing-masing, bisa jadi iya dan bisa jadi tidak. Seperti debat dengan SJW di twitter “yaudah kembali ke pribadi masing-masing aja”.
Mari kita bedah hal yang membuat media sosial menjadi sumber penyakit hati; iri, dengki, overthinkhing, dan semacamnya.
1. Iri dan dengki
Percaya atau tidak, karena media sosial hati kita bisa tiba-tiba tertanam iri dan dengki kepada sesuatu, entah orang atau lainnya. Ketika hidup berjalan seperti biasanya, nyaman, makan siang dengan ayam bakar ditemani jus alpukat, namun tangan sebelah kanan scroll media sosial dan melihat seseorang yang kita kenal memiliki barang baru yang dibeli “lah kok dia enak ya, pengangguran tapi kalo di sosmed pamer jalan terus, fak *****”. Atau melihat orang lain selalu traveling/jalan keluar kota “dih kok dia bisa ya keluar kota hampir setiap minggu, bangke emang, mana pamer mulu jajan di indromaret” saking irinya, jajan di indromaret aja iri. Ini iri versi over.
Ya nggak sih, bener kan ini terjadi, iri dan dengki datang bisa karena media sosial. Melihat orang lain lebih wah, lebih enak, bergelimah harta, beda dengan diri kita yang bergelimang sadness.
2. Overthinking
Ini sih yang bikin kepala suka pusing mendadak, pikiran kemana-mana, karena apa? Ya sosial media. Bagaimana bisa, orang kok bisa lebih dari kita, padahal semua usaha dan perjalanannya sama, sama-sama kuliah dengan lulus cepat, sama-sama mencari kerja, tapi kok dia udah dapet kerja. Apa ya yang salah dalam diri ini, apa diri ini kurang usaha, apa yang harus dilakukan lagi, dan pertanyaan lainnya yang bikin kepala makin pusing dan mau meledak.
Akhirnya mencoba mengalihkannya, tiba-tiba melihat orang lain lagi yang lebih, kepikiran lagi, nanya sama diri sendiri lagi, dan terus begitu siklusnya. Mampus sudah. Ini semua karena sosial media, su…
Sebenernya masih banyak negatifnya, tapi tiba-tiba pikiran ini kembali iri dan dengki ditambah overthingking. Wes lah, segitu aja yang pengen diluapkan, dah nggak mood, mau bikin klepon aja. Intinya jangan berlebihan kepada sesuatu hal, jeda, istirahat, terlalu banyak tau juga tidak perlu, ada raga dan jiwa yang perlu dijaga dan dibatasi. Salam untuk semua. Ok, lurd.
